❌ Pemerintah Batalkan Wacana Gross Split Minerba, Akan Relaksasi Kuota RKAB
Daily Market Performance π
IHSG |
Foreign Flow |
Kurs USD/IDR |
Gold |
| 5.342,1 -4,52% | -Rp447,1 miliar | 18.178 +0,88% | 4.315 -1,15% |
Oil |
Coal |
CPO |
Nickel |
| 96,7 +3,85% | 150,3+1,86% | 4.573 +0,42% | 18.581 -0,58% |
π Stockbitor!
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pada Senin (8/6) bahwa pemerintah hanya memberlakukan skema gross split pada sektor minyak dan gas, sementara sektor mineral dan batu bara tidak memiliki perubahan. Sebelumnya, Bahlil mengatakan pada awal Mei 2026 bahwa pemerintah mempertimbangkan penerapan skema bagi hasil dengan pengelola tambang, mengacu pada praktik yang telah diterapkan di sektor minyak dan gas.
Pada kesempatan yang sama, Bahlil juga menyebut bahwa pemerintah akan melakukan relaksasi secara terukur terhadap kuota produksi dalam RKAB 2026 di sektor mineral dan batu bara seiring kenaikan harga komoditas, yang ditujukan agar pendapatan negara lebih optimal. Bahlil menambahkan bahwa harus ada keseimbangan antara kapasitas produksi dan kuota hasil pertambangan untuk memastikan industri dapat beroperasi dengan lancar. Sebelumnya, Bahlil telah membuka peluang untuk merevisi naik kuota produksi dalam RKAB 2026 sejak Maret 2026. Perusahaan tambang sendiri dapat mengajukan revisi RKAB pada Juli 2026.
Key Takeaway
Dibatalkannya wacana penerapan gross split pada sektor mineral dan batu bara memberikan sedikit angin segar, mengingat rumor dieksekusinya wacana tersebut turut menekan harga saham emiten–emiten pertambangan sejak pekan lalu. Saham pertambangan pun relatif bergerak lebih resilien dibandingkan IHSG yang turun -4,52% pada Senin (8/6), dengan beberapa saham emiten pertambangan bahkan hanya bergerak flattish seperti $AADI (-1,65%), $ITMG (-0,11%), $MBMA (+1,38%), dan $NCKL (-0,64%). Di sisi lain, masih terdapat overhang dari implementasi kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis. Namun, spesifik bagi sektor metal, kekhawatiran sedikit mereda dengan peluang pengecualian untuk pelaku usaha yang memiliki kontrak/perjanjian dengan pemerintah terkait investasi, divestasi, dan pengolahan/pemurnian dalam negeri, yang sebelumnya diumumkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No. 24/2026.
π€ TLKM Akan Bagikan Dividen dengan Indikasi Yield 9,4%
- $TLKM: Telkom Indonesia akan membagikan dividen tahun buku 2025 senilai Rp222,08/saham, mengindikasikan dividend yield ~9,4% per Senin (8/6). Jumlah ini setara ~123,5% dividend payout ratio (vs. 2024: ~89%). Cum date dan tanggal pembayaran belum diketahui.
- $ESSA: Kami mengestimasi produksi amonia ESSA Industries Indonesia pada 2Q26 turun ke kisaran 110–130 ribu ton (turun 33–44% QoQ atau turun 28–39% YoY) akibat maintenance terjadwal selama 35–40 hari sejak 6 Mei 2026, berdasarkan pertemuan kami dengan manajemen ESSA Industries Indonesia dalam acara Closed Door Meeting pada Selasa (2/6). Meski produksi turun, penjualan pada 2Q26 akan terbantu oleh inventory amonia sebesar ~38 ribu ton yang belum sempat dikirim per akhir 1Q26, sehingga sebagian akan menutup penurunan volume. Manajemen memberikan guidance bahwa produksi selama 2026 akan berkisar ~720 ribu ton (-4% YoY). Harga amonia sendiri masih tinggi seiring gangguan pasokan akibat perang Iran dan penurunan produksi dari produsen global, dengan acuan Asia Tenggara yang menjadi basis penjualan ESSA berada di kisaran ~US$750/MT (+71% QoQ, +161% YoY), sementara harga acuan India mencapai ~US$880/MT akibat musim pemupukan pada periode Mei–Juni 2026. Merespons harga tinggi ini, manajemen ESSA justru relatif konservatif untuk harga jangka panjang karena level di atas US$800/MT dinilai tidak berkelanjutan (mirip 2022), sehingga berisiko memicu demand destruction. Namun, manajemen ESSA memperkirakan bahwa normalisasi harga butuh waktu sekitar 3–6 bulan bahkan jika konflik Timur Tengah mereda besok, mengingat pabrik perlu waktu start–up dan logistik pengapalan tidak dapat terjadi secara instan. Selain itu, manajemen ESSA optimistis bahwa perpanjangan kontrak pasokan gas yang akan berakhir pada Desember 2027 dapat diamankan dan memandang posisi pasokan gas ESSA relatif aman ke depan. Simak poin–poin penting pertemuan kami dengan ESSA di sini.
- $PGEO: Pertamina Geothermal Energy mengumumkan bahwa 3 proyek pengembangan panas buminya masuk ke dalam Green Book 2026 Bappenas, yang menandai langkah penting untuk memperoleh potensi pendanaan konsesional hingga ~US$477,9 juta. Pinjaman konsesional sendiri memiliki bunga yang lebih rendah dan tenor yang lebih panjang dibandingkan pinjaman komersial. Pendanaan tersebut akan diberikan melalui skema subsidiary loan agreement (SLA), di mana dana lembaga multilateral disalurkan lewat pemerintah Indonesia dan diteruskan ke perseroan (on–lending). Rincian perolehan pendanaan proyek tersebut meliputi: 1) ~US$158,9 juta dari JICA untuk PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW, target COD 2030); 2) ~US$149 juta dari JICA untuk PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW, target COD 2032); dan 3) ~US$170 juta dari Bank Dunia untuk PLTP Lahendong Unit 7–8 (50 MW, target COD 2030). Tonggak berikutnya adalah penyelesaian negosiasi SLA dengan JICA dan Bank Dunia.
- $EMAS: Bisnis melaporkan bahwa Merdeka Gold Resources mengestimasikan sumber daya mineral perdana di prospek Kolokoa, Gorontalo, sebesar ~445 ribu ons emas. Temuan tersebut meningkatkan total sumber daya mineral tambang emas Pani sebesar +6%, dari 7 juta ons menjadi ~7,4 juta ons emas. Program eksplorasi di prospek Kolokoa berlangsung pada periode November 2025–April 2026, dengan potensi pengembangan lebih lanjut melalui mineralisasi emas ke arah utara, selatan, maupun pada kedalaman yang lebih besar.
- $MIDI: Midi Utama Indonesia akan membagikan dividen tahun buku 2025 senilai ~Rp396,2 M atau Rp11,85/saham, mengindikasikan dividend yield ~4,3% per Senin (8/6). Jumlah ini setara ~50% dividend payout ratio (vs. 2024: ~45%). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 12 Juni 2026, sementara pembayaran pada 25 Juni 2026.
- $TOTO: Surya Toto Indonesia akan membagikan dividen final tahun buku 2025 senilai Rp13/saham, mengindikasikan yield dividen final ~5,7% per Senin (8/6). Cum dividen final di pasar reguler dan negosiasi pada 11 Juni 2026, sementara pembayaran pada 25 Juni 2026. Sebelumnya, TOTO telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 senilai Rp10/saham pada Desember 2025, sehingga total dividend payout ratio tahun buku 2025 mencapai ~68% (vs. 2024: ~79%).
- $MEDC: Medco Energi Internasional akan membagikan dividen final tahun buku 2025 senilai US$45 juta atau US$0,0018/saham, setara ~Rp32/saham dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di 17.800. Jumlah tersebut mengindikasikan yield dividen final ~2,7% per Senin (8/6). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 15 Juni 2026, sementara pembayaran pada 3 Juli 2026. Sebelumnya, MEDC telah membagikan dividen interim tahun buku 2025 senilai ~Rp28,45/saham pada November 2025, sehingga total dividend payout ratio tahun buku 2025 mencapai ~86% (vs. 2024: ~17%).
- $HRTA: Hartadinata Abadi akan membagikan dividen tahun buku 2025 senilai ~Rp184,2 M atau Rp40/saham, mengindikasikan dividend yield ~2,1% per Senin (8/6). Jumlah ini setara ~19% dividend payout ratio (vs. 2024: ~22%). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 11 Juni 2026, sementara pembayaran pada 3 Juli 2026.
- $SMDR: Samudera Indonesia mengumumkan bahwa sebuah kapal kontainer yang di–carter dan dioperasikan anak usaha perseroan, Samudera Shipping Line Ltd. (Singapura), telah tenggelam pada 5 Juni 2026 sekitar pukul 23.00 waktu Singapura. Kapal tersebut — yang melayani rute Singapura–Pasir Gudang, Malaysia — dimiliki dan dikelola oleh pihak ketiga berdasarkan perjanjian carter. Seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat tanpa korban jiwa. Perseroan menyatakan insiden ini tidak berdampak material serta tengah berkoordinasi dengan pemilik kapal, otoritas maritim, dan perusahaan asuransi untuk penanganan insiden dan pemulihan muatan, sekaligus menyiapkan kapal pengganti untuk menjaga kelangsungan layanan rute tersebut.
π Insider Transactions
Top Gainer π₯
$TPIA |
$PSAB |
$ADMR |
$MBMA |
| +22,99% | +8,00% | +3,57% | +1,38% |
Top Loser π€
$FILM |
$TLKM |
$IMPC |
$HRTA |
| -14,89% | -14,86% | -14,71% | -13,62% |
π₯ Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…
- Bank Indonesia mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 turun ke level US$144,9 miliar (vs. April 2026: US$146,2 miliar), level terendah sejak Juni 2024 serta melanjutkan penurunan dalam 5 bulan beruntun — menandai penurunan cadangan devisa terpanjang sejak 2018 — ditekan oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
- Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan pada Sabtu (6/6) sepakat untuk meningkatkan yield aset Indonesia guna menarik arus masuk portofolio dan mendukung rupiah, setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai titik terendah dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, Reuters melaporkan bahwa Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan tidak memberikan rincian terkait rencana tersebut. Sebelumnya, Bank Indonesia telah meningkatkan intervensi di pasar valuta asing dan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada Mei 2026 — lebih tinggi dibandingkan ekspektasi konsensus — untuk mempertahankan nilai tukar rupiah, di mana langkah–langkah tersebut dipadukan dengan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang di pasar sekunder untuk mengelola likuiditas. Reuters melaporkan bahwa outflow yang dialami Indonesia pada tahun ini didorong oleh kekhawatiran investor terhadap risiko pelebaran defisit APBN di tengah lonjakan harga minyak, terkikisnya otonomi bank sentral dalam revisi UU P2SK yang baru, masalah transparansi di pasar saham, dan rencana baru Presiden Prabowo untuk memusatkan ekspor komoditas utama melalui Danantara. Untuk membantu pemerintah mengelola biaya bunganya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga yang dibayarkan untuk uang tunai yang disimpan pemerintah di Bank Indonesia, sembari menambahkan bahwa langkah ini akan mengurangi kekhawatiran yang mungkin dimiliki lembaga pemeringkat kredit.
- Organisation for Economic Co–operation and Development (OECD) dalam outlook Juni 2026 memproyeksikan defisit APBN 2026 akan mencapai limit legal di 3% terhadap PDB, lebih tinggi dibandingkan realisasi APBN 2025 di 2,92% terhadap PDB dan target APBN 2026 di 2,7% terhadap PDB. Proyeksi tersebut terutama didorong oleh potensi harga minyak yang tetap tinggi, dengan perkiraan tambahan subsidi bahan bakar akan menambah defisit APBN sebesar 0,6% terhadap PDB. Untuk mempertahankan defisit tidak melebihi limit legal, OECD memperkirakan bahwa pemerintah Indonesia membutuhkan penghematan sebesar 0,3% terhadap PDB, termasuk melalui pemangkasan belanja dan potensi penerapan windfall tax bagi eksportir komoditas. Di sisi lain, belanja modal di luar APBN via Danantara diperkirakan turut mendorong investasi dan memperkuat sikap fiskal yang akomodatif. Untuk 2027, OECD memproyeksikan defisit APBN 2027 akan menurun ke level 2,9% terhadap PDB, yang didasarkan pada ekspektasi penurunan biaya subsidi energi di tengah ekspansi program Makan Bergizi Gratis.
- Organisation for Economic Co–operation and Development (OECD) dalam outlook Juni 2026 merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi +4,7% YoY pada 2026, sementara outlook untuk 2027 tidak berubah di +5% YoY. Sebelumnya, OECD pada outlook Maret 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di +4,8% YoY pada 2026 dan +5% pada 2027. OECD menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan ditekan oleh tingginya biaya energi dan ketidakpastian kebijakan, yang menekan konsumsi dan investasi di tengah pelemahan pasar ketenagakerjaan. Inflasi Indonesia diekspektasikan naik ke level 3,4% pada 2026 seiring meningkatnya biaya energi, meski subsidi berlanjut. Net ekspor diekspektasikan tidak memberi kontribusi seiring permintaan yang lebih soft untuk komoditas utama, di–offset oleh impor yang melemah.
- Kementerian Perdagangan pada Senin (8/6) resmi merilis peraturan teknis terkait sentralisasi ekspor komoditas batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy melalui Peraturan Menteri Perdagangan No. 15, 16, dan 17 tahun 2026.
- Bloomberg melaporkan bahwa rencana penerbitan obligasi berdenominasi dolar AS oleh Danantara ditujukan untuk membantu refinancing pinjaman sebesar US$1 miliar yang Danantara dapatkan pada awal tahun ini. Bloomberg melaporkan bahwa dalam memorandum penawaran obligasi, Danantara mengatakan bahwa “pemerintah tidak menjamin” kewajiban apa pun sehubungan dengan obligasi tersebut, sementara hasilnya akan digunakan untuk tujuan korporasi umum, termasuk investasi dan refinancing. Danantara dikabarkan akan mengadakan roadshow terkait penerbitan obligasi tersebut dengan investor di Boston dan New York pada 9–10 Juni 2026, setelah pada pekan lalu menggelar pertemuan dengan investor Asia.
- Harga minyak Brent naik sekitar +3,9% ke kisaran ~US$96,7/barrel pada Senin (8/6) sore, didorong oleh Israel yang melancarkan kembali serangan ke Lebanon pada Minggu (7/6), meski kedua pihak sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata. Serangan baru dari Israel tersebut dapat menjadi hambatan tambahan bagi tercapainya kesepakatan damai antara AS–Iran, mengingat Iran sebelumnya meminta gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat bagi kesepakatan damai dengan AS. Iran sendiri merespons serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dirinya akan meminta Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran.
- OPEC+ pada Minggu (7/6) menyepakati kenaikan target produksi minyak sebesar 188.000 barrel per hari mulai Juli 2026, menandai kenaikan target produksi yang ke–4 kali sejak perang AS–Iran terjadi. Sebelumnya, 7 negara anggota inti OPEC+ telah meningkatkan kuota produksi mereka hampir 600.000 barrel per hari sepanjang periode April–Juni 2026. Meski demikian, produksi aktual OPEC+ justru mengalami penurunan tajam akibat berkurangnya ekspor dari negara–negara Teluk. Berdasarkan data OPEC, rata–rata produksi minyak OPEC+ hanya mencapai ~33,2 juta barrel per hari pada April 2026, turun dari ~42,8 juta barrel per hari pada Februari 2026.
- Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pada Senin (8/6) bahwa pihaknya akan meminta polisi untuk menyelidiki sekitar 300 perusahaan kelapa sawit terkait anjloknya harga tandan buah segar di tengah ketidakpastian rencana sentralisasi ekspor. Kementerian Pertanian pun meminta perusahaan untuk mengembalikan harga pembelian tandan buah segar ke level sebelum kebijakan sentralisasi ekspor baru diumumkan. Reuters melaporkan bahwa harga tandan buah segar di Indonesia anjlok pada akhir Mei 2026 setelah pemerintah mengumumkan rencana sentralisasi ekspor komoditas, di mana para pedagang dan pabrik menahan pembelian karena kurangnya kejelasan terkait kebijakan sentralisasi ekspor tersebut. Amran mencatat bahwa masih ada sekitar 300 dari 1.900 perusahaan di sektor kelapa sawit yang belum menaikkan harga pembelian tandan buah segar sesuai dengan peraturan penetapan harga.
π Masalahnya Bukan Modal Kecil, Tapi Cara Membangun Modal yang Salah
“Earning power tidak akan pernah naik kalau waktunya habis di depan layar. Saving rate tidak akan pernah meningkat kalau earning power stagnan.” — fikrikawakibi
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Banyak investor percaya bahwa untuk berhasil di pasar saham dibutuhkan modal besar sejak awal, padahal masalah utamanya sering kali bukan terletak pada jumlah modal, melainkan pada cara membangun fondasi finansial. Dalam tulisannya, Stockbitor fikrikawakibi menjelaskan bahwa kemampuan menghasilkan uang, menabung secara konsisten, meningkatkan kapasitas diri, dan mengelola pengeluaran justru menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding sekadar fokus mencari strategi investasi terbaik. Kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu cepat mengejar hasil dari pasar tanpa membangun fondasi seperti income, saving power, dan disiplin finansial terlebih dahulu. Oleh karena itu, investasi seharusnya dipandang sebagai alat untuk mengembangkan modal yang sudah dibangun secara bertahap, bukan sebagai jalan pintas untuk mengubah modal kecil menjadi besar dalam waktu singkat. Baca selengkapnya di sini!
Sekilas tentang fikrikawakibi
Stockbitor fikrikawakibi aktif membagikan tulisan yang menggabungkan analisa fundamental, logika investasi, serta kritik terhadap narasi dan perilaku pasar. Ia sering mengangkat pentingnya memahami kualitas bisnis, dan proses berpikir yang rasional dibanding sekadar mengikuti “story” atau euforia market. Tulisan-tulisannya cocok untuk investor yang ingin memahami cara berpikir kritis, membedakan investasi vs spekulasi, serta melihat pasar dari sudut pandang yang lebih dalam dan rasional
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$TPIA
$PSAB
$ADMR
$MBMA
$FILM
$TLKM
$IMPC
$HRTA
Komentar
Posting Komentar