π€ IHSG Turun -23% dari ATH dan Mulai Rebound: Bottom Sudah Terlewati?
Daily Market Performance π
IHSG | Foreign Flow | Kurs USD/IDR | Gold |
| 7.164,1 -1,89% | -Rp1,9 triliun | 16.904 -0,04% | 4.422 -2,87% |
Oil | Coal | CPO | Nickel |
| 100,1 +2,92% | 137,6 -1,57% | 4.581 +1,89% | 17.344 +2,32% |
π Stockbitor!
IHSG telah turun -23,1% dari level all–time high di ~9.135 pada 20 Januari 2026 ke level ~7.022 pada hari terakhir perdagangan bursa sebelum libur Lebaran (16 Maret 2026). Penurunan ini didorong oleh 3 shock berturut–turut dalam waktu kurang dari 3 bulan, yakni: 1) pembekuan sementara oleh MSCI untuk indeks Indonesia; 2) perang AS–Iran yang mengerek harga minyak naik lebih dari +40% akibat penutupan Selat Hormuz; dan 3) meningkatnya risiko fiskal Indonesia seiring asumsi APBN terkait harga minyak dan kurs yang terlampaui. Di tengah berbagai sentimen negatif tersebut, penting untuk melihat data historis sebagai perspektif.
Apakah IHSG bisa turun lebih dalam?
Berdasarkan data Bloomberg sejak 2000 (lihat tabel), penurunan dari peak ke bottom (drawdown) sebesar -23% pada episode kali ini berada di kisaran yang sama dengan episode 'Taper Tantrum 2013' (-24%), 'China Scare 2015' (-25%), dan 'selloff Liberation Day 2025' (-25%). Jika pola yang sama terjadi, hal ini mengindikasikan bahwa IHSG sudah berada/mendekati area bottom. Penurunan lanjutan yang signifikan lebih dari 24–25%, secara historis, hanya terjadi pada episode 'Dot–com Bust awal 2000' (-52%), 'Global Financial Crisis 2008' (-61%), dan 'pandemi COVID-19 2020' (-38%), di mana ketiganya merupakan krisis yang berskala jauh lebih besar.
Key Takeaway
Apa yang harus dilakukan investor?
Pasca–libur Lebaran, IHSG menguat sekitar +1% per Kamis (26/3) dibandingkan hari terakhir sebelum libur dan kini diperdagangkan pada valuasi 11,4x 1–Year Forward P/E, sekitar -2 Standard Deviation di bawah rata–rata historis 15 tahun. Level ini merupakan valuasi IHSG yang terendah sejak 'pandemi Covid-19 2020' dan 'selloff Liberation Day 2025.' Meski valuasi IHSG sudah murah secara historis, penting bagi investor yang sudah memiliki posisi untuk mengevaluasi saham yang dimiliki: apakah alasan membelinya masih valid dan apakah fundamentalnya berpotensi terdampak signifikan oleh kondisi saat ini, terutama dari sisi dampak kenaikan harga minyak terhadap laba bersih. Sementara itu, bagi investor jangka panjang, koreksi pasar secara historis dapat menjadi kesempatan untuk mendapatkan saham berkualitas pada harga yang lebih murah.
Apa yang perlu dicermati ke depan?
- Durasi penutupan Selat Hormuz dan arah pergerakan harga minyak. Jika negosiasi AS–Iran tidak tercapai dan perang berlangsung secara berkepanjangan dan/atau memanas, risiko terhadap perekonomian baik global maupun domestik menjadi semakin besar.
- Kemampuan/inisiatif pemerintah untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% terhadap PDB.
- Eksekusi reformasi pasar modal Indonesia sebelum deadline yang ditetapkan MSCI pada Mei 2026.
π Purbaya Klaim Danantara Setuju PNM Dialihkan ke Kemenkeu
- $BBRI: Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pada Kamis (26/3) mengeklaim bahwa rencana pengambilalihan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dari Bank Rakyat Indonesia menjadi di bawah naungan Kementerian Keuangan telah disetujui oleh pimpinan Danantara, meski eksekusinya masih tertunda hingga kini. Purbaya menjelaskan bahwa proses pengambilalihan tersebut masih terus diproses dan optimistis dapat rampung pada tahun ini. Ke depan, Purbaya ingin menjadikan PNM sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR). PNM sendiri berkontribusi ~1,8% laba bersih konsolidasi BBRI selama 2025. Sebelumnya, rencana pengambilalihan PNM oleh Kementerian Keuangan telah disampaikan oleh Purbaya sejak Februari 2026.
- $PTRO: Petrosea mengumumkan bahwa konsorsium perseroan bersama PT Enviromate Technology International dan PT Nindya Karya telah menandatangani kontrak pekerjaan konstruksi onshore senilai ~Rp989 M dengan jangka waktu 36 bulan untuk proyek Abadi milik Inpex di blok Masela, Maluku. Porsi partisipasi PTRO dalam konsorsium tersebut mencapai 36%.
- $INCO: Vale Indonesia mendapatkan fasilitas kredit hingga US$500 juta dari DBS Bank Ltd., Mizuho Bank Ltd., PT Bank Mizuho Indonesia, dan UOB Ltd., dengan tujuan untuk membiayai keperluan umum korporasi perseroan. Fasilitas ini memiliki opsi greenshoe sampai dengan US$250 juta. INCO menjelaskan bahwa fasilitas kredit ini memberikan kepastian pendanaan pada proyek–proyek pembangunan tambang dan smelter perseroan, yang sebagian telah memasuki fase penyelesaian.
- $UNTR: Nickel Industries Ltd. (ASX: NIC) mengumumkan bahwa seluruh operasional tambang nikel Hengjaya di Morowali telah ditangguhkan sementara usai perusahaan melaporkan kecelakaan fatal yang melibatkan pekerja kontrak. Kementerian ESDM akan melakukan penyelidikan terkait hal ini, yang diperkirakan akan dimulai pada 27 Maret 2026. Nickel Industries sendiri merupakan entitas asosiasi United Tractors, di mana UNTR menggenggam kepemilikan efektif 20,1% di perusahaan tersebut, berdasarkan laporan keuangan 2025.
- $BBCA: Anggota direksi dan komisaris Bank Central Asia — yang terdiri dari Gregory Hendra Lembong, John Kosasih, Tonny Kusnadi, Santoso, Vera Eve Lim, dan Tan Ho Hien (Subur) — membeli total ~3,7 juta saham BBCA dengan harga rata–rata Rp6.982/lembar atau senilai total ~Rp26,1 M pada 25 Maret 2026.
- $GIAA: BEI mengumumkan bahwa saham Garuda Indonesia telah keluar dari papan pemantauan khusus ke papan pengembangan. Perkembangan ini menyusul posisi ekuitas GIAA kembali menjadi positif sebesar US$91,9 juta pada akhir 2025 berkat penambahan modal Danantara sebesar ~Rp23,7 T atau ~US$1,4 miliar, dari sebelumnya mencatatkan ekuitas negatif sejak 2020.
- $VKTR: Pemegang saham VKTR Teknologi Mobilitas, PT Kuantum Akselerasi Indonesia, menjual 800 juta saham VKTR pada 16 Maret 2026 dengan nilai transaksi yang tidak disebutkan. Transaksi ini merupakan bagian dari transaksi repurchase agreement (repo). Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung PT Kuantum Akselerasi Indonesia di VKTR turun dari ~5,13% menjadi ~3,3%. Dalam keterbukaan informasi terpisah, PT Kuantum Akselerasi Indonesia juga menjual ~3,6 juta saham VKTR dengan nilai transaksi yang tidak disebutkan pada 3–4 Maret 2026.
Top Gainer π₯
$JPFA | $MEDC | $MIKA | $BUKA |
| +8,26% | +4,57% | +3,38% | +2,88% |
Top Loser π€
$FILM | $TCPI | $IMPC | $BUVA |
| -14,48% | -8,90% | -7,92% | -7,51% |
π₯ Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa Iran sedang meninjau proposal AS untuk mengakhiri perang, tetapi Iran tidak berniat mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri konflik Timur Tengah yang semakin meluas. Sebelumnya, The New York Times melaporkan pada Selasa (24/3) malam waktu setempat bahwa AS telah menyampaikan 15 poin rencana untuk mengakhiri perang kepada Iran, sementara Channel 12 Israel melaporkan bahwa pemerintah AS sedang mengincar gencatan senjata selama 1 bulan untuk negosiasi. Pernyataan Abbas muncul bersamaan dengan kabar dari Bloomberg yang menyebut Iran telah menolak proposal awal yang diajukan oleh AS. Bloomberg dan Reuters melaporkan bahwa Iran memiliki syarat tersendiri untuk gencatan senjata, termasuk jaminan bahwa AS dan Israel tidak akan melanjutkan serangan mereka baik kepada Iran maupun kelompok–kelompok perlawanan lainnya, serta ganti rugi atas kerusakan perang dan pengakuan atas otoritas Iran di Selat Hormuz. Pemerintah AS sendiri tidak merinci poin–poin proposal yang diajukan kepada Iran, tetapi sejumlah narasumber dari kabinet Israel mengatakan kepada Reuters bahwa proposal tersebut mencakup penghapusan persediaan enriched uranium milik Iran, penghentian enrichment uranium, pembatasan program rudal balistik Iran, dan pemutusan pendanaan untuk sekutu regional.
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui formulasi tarif bea ekspor batu bara, dengan target berlaku mulai 1 April 2026. Besaran tarif bea keluar akan diumumkan setelah aturan teknis rampung dibahas lintas kementerian pada Kamis (26/3), setelah mempertimbangkan respons dari pelaku usaha. Sebelumnya, Purbaya pada Januari 2026 menyebut tarif bea ekspor kemungkinan akan berkisar 5–8% dan akan diterapkan secara surut sejak awal tahun. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pada Kamis (19/3) bahwa pemerintah sedang mereview kebijakan bea ekspor batu bara untuk meningkatkan pendapatan negara, di tengah ancaman pelebaran defisit akibat kenaikan harga minyak dunia.
- Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa pemerintah membuka peluang untuk melonggarkan kuota produksi batu bara dan bijih nikel jika harga kedua komoditas tersebut tetap tinggi. Pada hari yang sama, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto telah setuju untuk menerapkan bea ekspor untuk batu bara dan nikel, dengan tarif untuk keduanya masih didiskusikan. Pada awal Maret 2026, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, Meidy Katrin Lengkey, mengatakan bahwa pemerintah mempertimbangkan untuk merevisi kuota produksi nikel dalam RKAB 2026 pada Juli 2026, dengan maksimum revisi kenaikan berkisar 25–30%.
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa pihaknya telah menyetujui perubahan peraturan minimum free float dari 7,5% menjadi 15% yang diajukan oleh BEI. Hasan menyebut bahwa aturan pelaksananya akan dirilis pada akhir Maret 2026, tetapi implementasinya akan dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, Hasan mengatakan pada awal Maret 2026 bahwa pihaknya akan membagi waktu relaksasi bagi emiten untuk memenuhi minimum free float baru ke dalam 3 kelompok berbeda, yakni 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun.
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Rabu (25/3) bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk memberikan injeksi likuiditas berupa penempatan dana pemerintah ke bank swasta. Selama ini, penempatan dana pemerintah hanya dilakukan pada bank–bank BUMN dan BUMD.
- Presiden Philippine Nickel Industry Association, Dante Bravo, mengatakan pada Kamis (26/3) bahwa gangguan pasokan bahan bakar dari Timur Tengah ke Filipina berpotensi memberikan ketidakpastian bagi tingkat produksi bijih nikel di negara tersebut. Filipina sendiri merupakan negara produsen bijih nikel terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Sebelum AS–Israel melancarkan serangan ke Iran, asosiasi industri nikel Filipina awalnya memperkirakan ekspor bijih nikel sebanyak 75 juta ton selama 2026, naik dibandingkan realisasi 60 juta ton selama 2025. Per 20 Maret 2026, Filipina — yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah — memiliki stok cadangan minyak selama 45 hari. Pemerintah Filipina telah mendeklarasikan darurat energi nasional dan sedang bernegosiasi dengan berbagai negara termasuk China dan Rusia untuk memenuhi kebutuhan pasokan minyaknya.
- Direktur Jenderal di Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan permintaan asosiasi maskapai untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar dan batas atas harga tiket. Beberapa aspek yang akan menjadi pertimbangan antara lain kondisi keuangan maskapai, daya beli masyarakat, keberlanjutan industri, serta aspek keselamatan, keamanan, dan layanan. Pernyataan Lukman muncul setelah Indonesia National Air Carriers Association mengusulkan perubahan kebijakan tarif karena biaya operasional meningkat seiring kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah.
πΌ️ Seni Memilih Saham: Ciri Saham yang Layak Dibeli
"Investasilah pada apa yang kamu mengerti, dan mengertilah pada apa yang kamu investasikan." — hsnbsybn
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Dalam berinvestasi, investor sering kali merasa yakin dengan analisis atau pandangan yang dimiliki, hingga tanpa sadar mengabaikan kemungkinan lain yang bisa terjadi di pasar. Dalam tulisannya, Stockbitor hsnbsybn menekankan bahwa sikap overconfidence dan kecenderungan mencari pembenaran atas opini sendiri dapat menjadi jebakan yang berbahaya. Pasar tidak selalu bergerak sesuai ekspektasi, sehingga penting bagi investor untuk tetap terbuka terhadap berbagai skenario, mempertimbangkan risiko secara objektif, serta tidak terlalu terpaku pada keyakinan pribadi agar dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan adaptif.
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia ("Stockbit"), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri "@Stockbit.com". Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$JPFA
$MEDC
$MIKA
$BUKA
$FILM
$TCPI
$IMPC
$BUVA
Komentar
Posting Komentar