CNMA: Sustainable 9% Dividend Play with Limited Downside
Penulis: Amara Beatrice Hosianna Silalahi, Jonathan Asnaya Wu | Editor: Vivi Handoyo Lie, Edi Chandren, Andrian Tanuwijaya, Aulia Rahman Nugraha
7 Agustus 2026
- CNMA menawarkan potensi dividen ~Rp9/saham secara sustainable, mengindikasikan ~9% dividend yield.
- Admissions yang stabil, didukung perkembangan film lokal dan pemulihan Hollywood, serta free cash flow generation yang kuat memberi buffer tebal untuk mempertahankan level dividen tersebut.
- Valuasi sudah turun ke level yang relatif murah (~11x P/E pada 2026F) dan pricing–in ekspektasi growth yang moderat, sehingga membatasi risiko de–rating lanjutan.
Kinerja CNMA (2023–2028F): FCF Lampaui Laba Bersih dengan Admissions yang Stabil
Executive Summary
De–rating buka peluang akumulasi CNMA sebagai dividend play dengan yield ~9%, ditambah potensi pertumbuhan moderat sebagai upside — Harga saham Nusantara Sejahtera Raya ($CNMA) telah turun -65% sejak IPO, utamanya akibat ekspektasi growth yang tidak tercapai, dengan valuasi mengalami de–rating dari >20x 1Y Forward P/E menjadi 10,7x P/E pada 2026F. Kami melihat CNMA dari 2 sisi: 1) sebagai dividend play yang sustainable dan downside terbatas; dan 2) sebagai perusahaan yang masih memiliki ruang pertumbuhan, meski tidak lagi setinggi ekspektasi saat IPO. Kami memproyeksikan CNMA dapat membagikan minimum dividen Rp8,8/saham per tahun (yield 9,4% per 5 Agustus 2026), didorong oleh: 1) tren jumlah penonton (admissions) yang stabil; dan 2) free cash flow (FCF) generation yang solid, jauh di atas laba bersih tahunan, sehingga CNMA dapat membagikan 100% laba bersih sebagai dividen setidaknya hingga 2 tahun ke depan. Kami juga memproyeksikan laba bersih CNMA dapat tumbuh sekitar +8% YoY per tahun pada periode 2027F–2028F seiring perkembangan film lokal dan pemulihan Hollywood, memberikan upside bagi dividen.
Perkembangan film lokal dan pemulihan Hollywood secara bergantian mendukung kestabilan admissions — Kami memperkirakan admissions CNMA, sebagai kunci utama kinerja perseroan, akan stabil di kisaran 87–90 juta pada periode 2026F–2028F, ditopang oleh perkembangan film lokal dan pemulihan produksi Hollywood serta dinamika streaming–bioskop yang kini menjadi komplementer setelah pemulihan jeda waktu antara penayangan bioskop dan platform streaming (theatrical window). Film lokal sendiri menjadi penopang admissions pasca–pandemi (2023–2025) di tengah lemahnya rilis film international. Ke depan, kami memperkirakan perbaikan admissions CNMA untuk film internasional, didorong oleh pemulihan komitmen Hollywood terhadap bioskop yang terefleksikan pada jumlah ‘wide release’ (film yang ditayangkan secara masif) yang diproyeksikan kembali ke level pra–pandemi pada 2026, sehingga semakin mendukung kestabilan keseluruhan admissions CNMA.
Magnitude FCF yang jauh di atas laba bersih memberikan buffer tebal untuk payout dividen yang tinggi — Dengan level admissions di atas, serta laju ekspansi yang lebih selektif, kami memproyeksikan CNMA akan mencetak FCF sekitar Rp1,1 T per tahun pada periode 2026–2028F. Angka tersebut jauh di atas level laba bersih CNMA pada periode yang sama, yang kami estimasikan mencapai Rp732–854 M. Perbedaan magnitude keduanya membuat CNMA memiliki buffer yang tebal untuk membagikan seluruh 100% labanya sebagai dividen, bahkan dalam skenario bearish (admissions lebih rendah -10% dari base–case) sekalipun.
Downside risk terbatas dan risiko utama — Dengan valuasi telah mengalami de–rating dan tidak memuat (tidak price–in) ekspektasi growth yang agresif, ditambah guidance manajemen yang lebih konservatif, kami menilai downside risk (de–rating lanjutan) untuk CNMA dari sisi valuasi relatif terbatas. Per 5 Agustus 2026, CNMA diperdagangkan pada valuasi 10,7x P/E dan 4,1x EV/EBITDA pada 2026F. Dibandingkan peers regional dan global, valuasi CNMA termasuk salah satu yang paling murah meski memiliki profitabilitas (ROE) yang tergolong tertinggi. Meski demikian, potensi peningkatan free float — di mana saat ini free float CNMA (~8%) berada di bawah peraturan minimum baru BEI (15%) — dapat menjadi faktor risiko non–fundamental bagi harga saham. Selain itu, tren admissions yang lemah dan berkelanjutan menjadi risiko utama karena akan mengurangi kapasitas pembagian dividen sekaligus membuka potensi valuasi kembali tertekan.
Dividend Yield ~9% Sustainable dengan Admissions Stabil & FCF Solid
Kami menilai bahwa ekspektasi dividend yield 9,4% (Rp8,8/saham berdasarkan harga saham Rp94/lembar per 5 Agustus 2026) dari Nusantara Sejahtera Raya ($CNMA) tidak hanya menarik, tetapi juga sustainable, didukung oleh:
- Kestabilan jumlah penonton (admissions) seiring berkembangnya konten lokal dan pemulihan Hollywood, serta indikasi bahwa disrupsi streaming mulai memasuki fase stabil dan menjadi komplementer terhadap bioskop.
- FCF yang jauh melampaui laba bersih dan didukung komitmen manajemen dalam membagikan dividen, di mana kami memproyeksikan CNMA akan mencetak FCF sekitar Rp1,1 T per tahun pada periode 2026F–2028F seiring berakhirnya fase ekspansi agresif, jauh lebih besar dari proyeksi kami atas laba bersih CNMA di kisaran Rp732–854 M pada periode yang sama.
Kestabilan Admissions
Kami percaya bahwa admissions CNMA akan relatif stabil ke depannya dengan proyeksi berkisar 87,1–89,6 juta pada periode 2026F–2028F, didorong oleh 2 faktor, yakni: 1) berkembangnya film lokal dan pemulihan supply film Hollywood; dan 2) proses disrupsi streaming yang telah mencapai puncaknya dan sekarang terbukti menjadi komplementer. Proyeksi kami atas admissions CNMA pada 2026F di 87,1 juta berada di batas bawah target manajemen di kisaran 87–90 juta, di mana manajemen sendiri cenderung optimistis admissions pada 2026 dapat mencapai batas atas guidance di level 90 juta.
Admissions CNMA Stabil Pasca–Pandemi & Diproyeksikan Berlanjut hingga 2028F
Admissions menjadi variabel utama dalam konsistensi laba bersih dan pembayaran dividen CNMA, mengingat: 1) margin laba kotor bisnis penayangan film yang flat di 50%; 2) pendapatan segmen F&B yang punya korelasi tinggi dengan pendapatan segmen film; dan 3) struktur biaya CNMA yang sebagian besar merupakan fixed costs seperti depresiasi, gaji karyawan, dan biaya sewa. Dengan kata lain, kinerja laba bersih memiliki sensitivitas tinggi terhadap volume admissions.
Ringkasan Historis & Proyeksi Laba Bersih CNMA pada 2019–2028F
- Admissions Berpotensi Stabil seiring Perkembangan Film Lokal & Pemulihan Suppy Film Hollywood — Kami melihat admissions CNMA ke depannya akan tetap stabil, seiring menguatnya konten lokal dan berakhirnya gangguan pada produksi film–film Hollywood. Pada periode 2023–2025, industri film Hollywood mengalami disrupsi signifikan akibat aksi mogok serikat pekerja penulis dan aktor, sehingga menunda produksi dan rilis film secara signifikan. Menurut laporan European Audiovisual Observatory pada 2026, produksi film AS dan Kanada baru pulih ~72% dari level pra–pandemi.
Di tengah kondisi tersebut, CNMA masih mencatat admissions yang cukup stabil, ditopang oleh pertumbuhan konten lokal. CNMA mencatat bahwa porsi film lokal terhadap total admissions naik dari 46% pada 2023 menjadi 62% pada 2025, dengan admissions film lokal tumbuh +17,6% CAGR sementara film internasional turun -16,4% CAGR pada periode tersebut. Perkembangan film lokal juga terlihat dari tren meningkatnya jumlah film lokal yang mencatat admissions lebih dari 1 juta penonton dari tahun ke tahun, terutama pasca–pandemi. Kekuatan konten lokal ini juga sejalan dengan strategi CNMA yang berekspansi ke kota tier–2 dan tier–3, di mana preferensi penonton terhadap konten berbahasa lokal cenderung lebih tinggi.
Dinamika Admissions CNMA: Film Lokal vs. Internasional pada 2019–2025
Jumlah Film Lokal dengan Admissions Nasional di Atas 1 Juta (2014–2025)
Ke depan, kami juga melihat kondisi produksi film Hollywood mulai membaik, terlihat dari pemulihan volume ‘wide release’ film Hollywood — yakni, film yang ditayangkan secara masif dan sekaligus di ratusan hingga ribuan bioskop secara nasional lokasi bioskop — sebagai proxy komitmen Hollywood terhadap bioskop. Setelah turun drastis dari level di atas 110 rilis per tahun pada periode 2015–2019 ke titik terendahnya di level 32 rilis pada 2020, jumlah wide release konsisten pulih ke kisaran ~90 rilis selama periode 2023–2025. Bahkan, perusahaan analisis media, Comscore, memproyeksikan volume wide release akan naik menjadi 113 pada 2026 atau kembali ke level pra–pandemi. Pemulihan wide release ini didukung oleh film–film ‘tentpole’ atau film dengan budget besar (seperti The Odyssey, Dune: Part Three, Spider Man: Brand New Day, dan Avengers Doomsday) maupun film mid–budget (seperti Obsessions dan Backrooms). Kami menilai bahwa pemulihan supply film dari Hollywood akan memberikan opsi dan intensitas jadwal tayang yang lebih baik bagi CNMA.
Tren Volume Film Wide Release Hollywood (2015–2026F)
- Streaming–Bioskop Telah Menemukan Ekuilibrium Baru & Bersifat Komplementer — Sejak pandemi, industri bioskop tertekan oleh industri streaming yang tumbuh agresif melalui harga maupun akuisisi konten. Hal ini diperparah dengan pemotongan theatrical window — yakni, jeda waktu antara penayangan bioskop dan platform streaming — dari ~90 hari saat pra–pandemi menjadi 17–31 hari saat pandemi, yang mendorong terjadinya proses kanibalisasi. Industri bioskop di Indonesia pun mengalami tren serupa, dengan admissions masih belum mampu kembali ke level sebelum pandemi, meski sudah relatif lebih stabil dan menunjukan tren positif di periode transisi tersebut (lihat tabel di bawah).
Kami percaya bahwa tekanan industri bioskop global sejak pandemi sudah cenderung mereda, seiring dengan persetujuan sejumlah studio Hollywood besar untuk memberikan theatrical window yang lebih panjang, yakni minimum 45 hari. Kami juga percaya bahwa menonton film bioskop dan streaming sudah sampai ke titik di mana kedua aktivitas tersebut dapat berjalan saling melengkapi (komplementer) karena memberikan value proposition yang berbeda bagi konsumen. Bioskop menawarkan experience dan interaksi sosial yang tidak dapat direplikasi di platform streaming, serta memiliki beberapa kelebihan seperti aksesibilitas lebih awal terhadap rilis film dan format premium seperti IMAX.
Faktor–faktor tersebut menjadi alasan kami untuk meyakini bahwa admissions maupun kinerja keuangan CNMA ke depan akan ter–support, yang pada gilirannya akan bermuara pada pembagian dividen yang stabil.
Screen Admissions pada 2019–2024, dalam Juta
Proyeksi FCF Lampaui Laba Bersih, Didukung Komitmen Manajemen dalam Membagikan Dividen
Kami memproyeksikan FCF CNMA sebagai indikator utama kapasitas pembayaran dividen akan berada di kisaran Rp1,1 T pada periode 2026F–2028F, jauh melampaui proyeksi kami atas laba bersih CNMA di kisaran Rp732–854 M pada periode yang sama. Perbedaan magnitude keduanya membuat CNMA memiliki buffer yang tebal untuk membagikan seluruh 100% labanya sebagai dividen.
Dengan asumsi payout ratio 100%, potensi dividen yang ditawarkan CNMA mencapai Rp8,8–10,3/saham pada periode 2026F–2028F, mengimplikasikan minimum dividend yield 9,4% berdasarkan harga saham CNMA di Rp94/saham per 5 Agustus 2026.
Rasio FCF terhadap laba bersih CNMA sendiri konsisten berada di atas 100% sejak 2022 (lihat tabel di bawah), dengan pengecualian pada 2024 saat ekspansi capex mencapai puncaknya.
Free Cash Flow to PATMI >100%: FCF CNMA Lampaui Laba Bersih
Free Cash Flow 2026F: Jauh Melampaui Kebutuhan Dividen, Memberikan Buffer Solid
FCF CNMA dapat jauh melampaui laba bersihnya karena perseroan memiliki beban depresiasi (non–cash) yang besar, di mana hal tersebut mengurangi laba bersih tanpa mengurangi cash flow. Kami melihat bahwa CNMA relatif konservatif dalam membukukan depresiasi, terlihat dari komparasi dengan peers regional dan global di mana CNMA mencatat depreciation rate tertinggi (lihat tabel di bawah).
Perbandingan Depreciation Rate dengan Peers Regional & Global
Proyeksi FCF kami didasarkan pada asumsi fase ekspansi CNMA yang lebih konservatif, melanjutkan tren sejak 2025. Manajemen CNMA sendiri hanya menargetkan penambahan 20 layar baru pada 2026, jauh di bawah realisasi periode 2023–2025 (2025: 38 layar, 2024: 70 layar, 2023: 64 layar).
Kinerja CNMA (2023–2028F): FCF Melampaui Laba Bersih dengan Admissions yang Stabil
Stress test kami menunjukkan bahwa CNMA masih mampu membagikan dividen ~Rp732 M atau setara Rp8,8/saham (yield ~9%) — yang setara 100% laba bersih pada 2026F — bahkan dalam skenario admissions yang bearish. Dalam skenario admissions -10% lebih rendah dari base case kami pada 2026F (87,1 juta), yakni di level 78 juta, FCF CNMA masih mencapai Rp838 M. Jumlah FCF tersebut lebih dari cukup untuk membayar dividen Rp732 M dengan coverage 1,14x, di mana coverage >1x mengindikasikan bahwa FCF melebihi dividend.
Penting untuk dicatat bahwa penurunan admissions terdalam CNMA pasca–pandemi hanya mencapai -2% pada 2025, sehingga kami menilai bahwa skenario penurunan admissions -10% lebih rendah dari base case kami sudah tergolong bearish.
Stress Test Sustainability Dividen Rp732 M pada 2026F (Yield 9%) terhadap Skenario Admissions yang Lebih Rendah
Selain kemampuan bayar dividen, kami melihat bahwa manajemen CNMA konsisten menjadikan dividen sebagai prioritas. Kami menilai bahwa risiko manajemen CNMA untuk menurunkan dividend payout ratio secara drastis relatif rendah, terutama mempertimbangkan kebutuhan capex yang menurun ke depan seiring melambatnya ekspansi. Sebagai gambaran, selama tahun buku 2023–2025, CNMA membagikan dividen dengan rata–rata payout ratio di atas ~110%, jauh melampaui kebijakan minimum dividend payout ratio 35% yang tercantum di prospektus. Manajemen CNMA pun menegaskan kembali komitmen ini dalam Closed–Door Meeting bersama Stockbit pada 30 Juni 2026, di mana manajemen menyatakan bahwa selama kebutuhan operasional terpenuhi, perseroan berniat mengembalikan hasil kinerja kepada pemegang saham.
Downside Terbatas di Level Saat Ini
Kami melihat bahwa valuasi CNMA pada saat ini memberikan peluang dividend play dengan downside yang terbatas. Meski harga saham telah turun -65% sejak IPO ke level Rp94/saham per 5 Agustus 2026, fundamental bisnis CNMA justru terjaga dengan laba bersih stabil di ~Rp700 M, FCF meningkat signifikan, dan dividend payout ratio konsisten di atas 100% (rata–rata ~110%).
Kami menilai de–rating dari >20x 1Y Forward P/E saat IPO menjadi 10,7x P/E pada 2026F per 5 Agustus 2026 sudah sepenuhnya mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap CNMA dari perusahaan dengan potensi pertumbuhan agresif menjadi perusahaan dengan pertumbuhan lebih moderat. Menurut kami, downside CNMA di valuasi saat ini terbatas karena 3 alasan utama, yakni: 1) risiko under–delivery menurun signifikan seiring guidance manajemen yang jauh lebih konservatif; 2) CNMA merupakan salah satu yang termurah dibandingkan peers dengan fundamental baik dan balance sheet yang solid, sehingga dapat memberikan buffer di segala skenario; serta 3) indikasi bahwa market secara umum mulai kembali stabil.
Guidance Manajemen yang Lebih Konservatif
Kami menilai risiko under–delivery yang dapat memicu de–rating lanjutan sudah jauh berkurang seiring guidance manajemen yang jauh lebih konservatif, dengan hanya menargetkan 20 layar baru pada 2026 dan jauh di bawah realisasi historis (2023: 64 layar, 2024: 70 layar, 2025: 38 layar). Penurunan target ini signifikan, mengingat penyebab utama de–rating pasca–IPO adalah guidance target ekspansi yang terlalu agresif di kisaran 80–140 layar/tahun yang tidak diimbangi oleh realisasi. Dengan realisasi ekspansi yang lebih moderat dari ekspektasi dan admissions cenderung flat di kisaran 84–87 juta pasca–pandemi, pasar akhirnya melakukan re–pricing terhadap CNMA. Sementara itu, manajemen dalam earnings call 2Q26 menyebut bahwa target penambahan 20 layar baru selama 2026 masih on–track, di mana 7 layar telah direalisasikan pada 1H26 dan ~15 layar baru dijadwalkan pada sisa 2026, sehingga total pipeline penambahan layar baru selama 2026 mencapai 22 layar atau sedikit di atas target.
Realisasi Ekspansi CNMA vs. Target Awal Manajemen pada 2023–2026F
Valuasi Termurah dengan Kualitas Fundamental Solid
Berdasarkan harga saham per 5 Agustus 2026 di Rp94/lembar, CNMA diperdagangkan pada 10,7x P/E dan 4,1x EV/EBITDA 2026F, di bawah rata–rata peers operator bioskop regional dan global, dengan profitabilitas (ROE) tergolong tinggi.
Kualitas fundamental CNMA didukung oleh skala operasional yang dominan dengan pangsa pasar ~60%, serupa dengan Major Cineplex Thailand (~70%) dan CJ CGV Korea (~45%), dan jauh lebih terkonsentrasi dibanding pasar seperti AS (AMC ~22%) atau India (PVR Inox ~15–20%) berdasarkan laporan dari Cinepoint pada 2025.
Ditambah dengan balance sheet yang bersih (posisi net cash), kombinasi ini membuat CNMA menarik sebagai dividend play dengan risiko downside terbatas.
Perbandingan Valuasi Peers Operator Bioskop Regional & Global
IHSG Mulai Tunjukkan Tanda–tanda Stabilisasi
Indikasi awal ini tercermin pada pergerakan IHSG yang telah rebound +19% dari titik terendahnya di level 5.342 pada 8 Juni 2026 menjadi 6.351 per 5 Agustus 2026. Menurut kami, hal ini didukung oleh:
- Afirmasi peringkat Indonesia oleh S&P Global Ratings: Pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings menjadi satu–satunya dari 3 lembaga pemeringkat utama yang mempertahankan outlook Indonesia di ‘stable’, setelah Moody's Ratings dan Fitch Ratings menurunkan outlook mereka ke ‘negative’ pada awal tahun ini. Keputusan ini menjadi kejutan positif bagi IHSG.
- Rupiah tetap stabil meski volatilitas geopolitik belum sepenuhnya mereda: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bertahan di kisaran ~18.000 sejak 10 Juni 2026 tanpa menembus all–time low di level 18.178, meski harga minyak dunia sempat kembali mendekati US$100/barrel pada akhir Juli 2026 seiring re–eskalasi konflik Iran–AS. Ketahanan nilai tukar rupiah juga didukung afirmasi outlook Indonesia oleh S&P Global Ratings.
Risiko & Katalis Tambahan
Risiko
- Sensitivitas terhadap admissions — Stress test kami menunjukkan bahwa CNMA masih mampu menopang dividen, bahkan dengan skenario penurunan admissions sebesar -10% pada 2026F. Namun, penurunan admissions yang lebih dalam atau berkepanjangan berpotensi menekan laba, FCF, dan besaran dividen.
- Free float dan likuiditas — Free float CNMA saat ini hanya ~8%, jauh di bawah batas minimum BEI di level 15%. Hal ini dapat menyebabkan volatilitas harga yang lebih tinggi, likuiditas perdagangan yang lebih rendah, dan risiko overhang jika terjadi rebalancing pemegang saham utama untuk memenuhi ketentuan free float.
Katalis Tambahan
- Outlook industri bioskop Indonesia lebih konstruktif dibandingkan ekspektasi — Berbeda dengan tren sunset di pasar Barat, industri bioskop Asia justru mencatatkan pertumbuhan admissions +10% pasca-pandemi, menurut laporan European Audiovisual Observatory pada 2026. Dalam konteks Indonesia, laporan Cinepoint pada 2025 mengekspektasikan produksi film lokal akan terakselerasi dari 152 film per tahun pada 2024 menjadi ~200 film per tahun pada 2028. Outlook peningkatan supply ini direspons oleh minat admissions yang kuat terhadap film lokal: 8 dari 10 film terlaris CNMA di 2025 merupakan film lokal, termasuk 2 judul yang menembus 10 juta admissions. CNMA sebagai operator dominan dari segi jumlah layar (~60% pangsa pasar) berpotensi menjadi beneficiary utama jika tren ini berlanjut.
- Potensi pembayaran dividen ke pola historis di atas 100% — Jika manajemen mempertahankan pola payout ratio di atas 100% seperti yang telah dilakukan secara historis (rata–rata ~110% sejak IPO), dividend yield aktual dapat melebihi asumsi kami di 100% dividend payout ratio, sehingga memberikan upside terhadap yield.
Penulis:
Amara Beatrice Hosianna Silalahi, Investment Analyst
Jonathan Asnaya Wu, Investment Associate
Editor:
Vivi Handoyo Lie, Head of Investment Research
Edi Chandren, Investment Analyst Lead
Andrian Tanuwijaya, Senior Investment Analyst
Aulia Rahman Nugraha, Senior Investment Journalist
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar